Penyebab Perbedaan Laporan Keuangan dalam Rekonsiliasi Fiskal

AdaDosenPajak.com – Penyebab Perbedaan Laporan Keuangan dalam Rekonsiliasi Fiskal. Rekonsiliasi fiskal terjadi karena adanya perbedaan dua laporan keuangan yang harus disesuaikan. Perbedaan tersebut dikarenakan perbedaan prinsip atau standar yang digunakan, dimana laporan keuangan komersil mengacu pada SAK dan laporan fiskal mengacu pada ketentuan UU Perpajakan.

1. Perbedaan Prinsip Akuntansi. Hal yang melatarbelakangi adanya perbedaan yang harus disesuaikan adalah prinsipnya. Prinsip akuntansi yang berlaku dalam Standar Akuntansi Keuangan (SAK) untuk bisnis, memiliki perbedaan dengan yang berlaku dalam fiskal.

a. Prinsip Konservatisme. Pada prinsip ini, penilaian persediaan akhir dilakukan berdasarkan pada metode “Terendah antara harga pokok dan nilai realisasi bersih.” Serta penilaian piutang dengan nilai taksiran realisasi bersih. Hal ini diakui dalam akuntansi komersial, akan tetapi tidak diakui dalam fiskal.

b. Prinsip Harga Perolehan (Cost)Dalam akuntansi komersial, penentuan harga perolehan barang yang diproduksi boleh disertai unsur biaya tenaga kerja dan natura (kenikmatan). Sedangkan dalam fiskal, pengeluaran dalam bentuk natura, tidak dapat dimasukan atau diakui sebagai pengeluaran biaya.

c. Prinsip Pemadanan (matching concept) anatar Biaya dengan Manfaat. Dalam akuntansi komersial mengakui penyusutan pada saat aset menghasilkan. Sedangkan pada fiskal, penyusutan dapat dihitung dari sebelum aset itu menghasilkan, misalkan alat pertanian.

2. Perbedaan Metode dan Prosedur Akuntansi. Perbedaan pada prinsip, metode dan prosedur ini juga terdiri dari beberapa poin, yaitu:

a. Metode Penilaian Persediaan. Dalam akuntansi komersil, ada beberapa cara atau metode untuk perhitungan atau penentuan harga perolehan persediaan. Diantaranya adalah rata-rata (avarage), masuk pertama keluar pertama (FIFO), masuk terakhir keluar pertama (LIFO), pendekatan laba bruto, dan pendekatan harga eceran. Sedangkan untuk fiskal, hanya ada dua metode yang diperbolehkan. Yaitu,metode rata-rata (average) dan metode masuk pertama keluar pertama (FIFO).

b. Metode Amortisasi dan Depresiasi. Dalam akuntansi komersial memberikan keleluasaan lebih untuk mengunakan metode amortisasi dan depresiasi, yaitu dapat dilakukan untuk semua harta berwujud atau aset tetap. Sedangkan pada fiskal, yang hanya diperbolehkan yaitu metode garis lurus dan saldo menurun. Untuk metode saldo menurun terbatas pada kelompok aset non bangunan, sedangkan untuk metode garis lurus untuk non bangunan dan bangunan. Kemudian, penentuan manfaat ekonomis suatu harta (aset) dapat ditentukan oleh kebijakan manajemen dalam akuntansi komersil, sedangkan dalam fiskal masa manfaat harta (aset) ditentukan oleh peraturan perpajakan (UU Perpajakan atau Keputusan Menteri Keuangan).Selain itu, dalam komersil mengenal nilai sisa (residu), dalam fiskal tidak mengenal nilai sisa (residu).

c. Metode Penghapusan Piutang. Metode penghapusan piutang dalam akuntansi komersial ditentukan berdasarkan pada metode langsung dan metode cadangan. Sedangkan dalam fiskal metodeyang digunakan hanya metode langsung dimana piutang sudah jelas tidak dapat tertagih dengan syarat-syarat tertentu sesuai ketentuan perpajakan, bilamana fiskal menggunakan metode cadangan hanya untuk industri tertentu yang tinggi resiko dan mengikuti ketentuan perpajakan. Contohnya seperti Bank, asuransi, sewa guna usaha dengan hak opsi dan pertambangan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *